Ads (728x90)

BIJAK ONLINE (Padang)---Pasangan Emzalmi-Desri Ayunda mengungkapkan rasa prihatinya melihat kondisi kenakalan remaja di Kota Padang yang sudah meninggalkan adat dan agama, sehingga terjerumus ke dalam pergaulan sek bebas dan maraknya prilaku LGBT.

Demikian antara lain penegasan pasangan Emzalmi-Desri Ayunda dalam debat publik putaran ketiga pasangan calon walikota dan wakil Walikota Padang periode 2019-2024 dengan thema menghadirkan pemerintah dalam pembangunan sosial dan budaya menuju Padang yang madani dan lestari, di Grand Inna Muara Padang, Kamis, 21 Juni 2018.

Debat kali ini dipimpin oleh moderator Robi Leo, diikuti oleh dua Pasangan calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Padang 2018 yaitu pasangan calon nombor urut 1, Ir. H. Emzalmi, M.Si dan H. Desri Ayunda, SE, MBA. Sedangkan pasangan calon nombor urut 2, H. Mahyeldi, SP dan Hendri Septa, B.BUS(ACC)MIB. Debat ini merupakan debat publik terakhir sebelum pilkada pada tanggal 27 Juni mendatang.

Selanjutnya, untuk mengupas tema tersebut, KPU menghadirkan panelis yaitu Profesor Sufyarma Marsidin dari UNP,  Profesor Afrizal dari Unand, Profesor Raudah Thaib dari Unand, Dr. Ikhwan Matondang dan Dr. Nurul Solihin dari UIN Imam Bonjol Padang.

Ketua KPU Padang, M. Sawati mengatakan debat publik ini merupakan kesempatan bagi Paslon untuk menyampaikan visi dan misi untuk Kota Padang kedepan.

"Dengan adanya debat, masyarakat juga dapat mengetahui visi dan misi calon kepala daerah dan akan menjadi pertimbangan bagi masyarakat dalam memilih calon pemimpin lima tahun ke depan," ujar Sawati.

Dijelaskanya materi pada debat terakhir ini terkait persoalan agama, budaya dan pendidikan. Tidak hanya itu, juga ada tentang pemberdayaan perempuan, program kependudukan, keluarga berencana, pembangunana keluarga dan pencegahan penyakit masyarakat.

Dengan dilakukannya tiga putaran debat publik dengan memaparkan visi dan misi serta argumentasinya masing-masing, hendaknya dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan pada Pilkada Padang.

"Pada Debat terakhir ini kita menyediakan tempat untuk 550 orang, 126 orang diantaranya disediakan untuk masing masing pendukung dari pasangan calon," ujar Sawati.

Dalam debat paslon nombor urut satu Emzalmi - Desri Ayunda mengatakan kondisi Kota Padang saat ini sangat memperhatinkan dilihat dari kenakalan remaja, pergaulan bebas hingga LGBT.

Selanjutnya, untuk itu memang perlu dilakukan pembangunan sumber daya manusianya, tidak hanya membangun infrastruktur semata, memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak SD dan SMP dan menciptakan SLTP unggul secara kualitas di Kecamatan yang ada di Kota Padang," ujar Desri Ayunda.

Tidak hanya itu Paslon urut satu tersebut mengatakan kebudayaan Kota Padang yang ada pada saat ini merupakan aset untuk penunjang pariwisata. "Kita harus menjaga keberagaman kebudayaan yang ada di Padang ini, dengan demikian akan menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan untuk datang," kata Emzalmi.

Menurut Emzalmi Walikota adalah pemimpin yang menjalankan roda perintahan bersama dengan wakil dan perangkat pemerintahan lainnya, jadi berhasilnya pemerintahan itu adalah keberhasilan bersama tidak hanya walikota semata.

Sementara itu, Paslon urut nombor dua Mahyeldi - Hendri Septa mengatakan untuk menciptakan Padang Madani dan lestari perlu diperhatikan agama dan pendidikan, menguatkan pendidikan salah satu cara untuk menciptakan generasi yang memiliki ilmu pengetahuan yang bagus atau unggul.

"Kita akan memberikan perhatian lebih kepada guru-guru, meningkatkan kualitasnya, dan kita juga akan lakukan Pemerataan penyebaran tenaga pengajar tersebut, sehingga bisa menunjang menciptakan sumbar daya manusia yang unggul," ujar Hendri Septa.

Selanjutnya, pihaknya juga akan menciptakan 500 ruang kelas baru, sehingga nantinya belajar hanya satu sif, dengan demikian anak juga akan memiliki waktu yg banyak dengan keluarga. "Keluarga merupakan tempat belajar yang pertama bagi anak, jadi dengan adanya sekolah satu sif maka akan banyak waktu bagi anak dengan keluarga," ujar Mahyeldi.

Mahyeldi menyebutkan langkah untuk menekan munculnya paham terorisme dan radikalisme di tengah-tengah masyarakat itu harus ditimbulkan rasa persatuan antar masyarakat.

"Sebetulnya, bukan soal salah pemahaman agama yang menjadi timbulnya paham terorisme dan radikalisme, tidak ada satu pun dari agama yang ada mengajarkan paham terorisme itu, maka dari itu perlu dibangkitkan rasa nasionalisme pada tanah air," ujar Mahyeldi. (fardi)

Post a Comment