Ads (728x90)

Teks foto : Suasana Halal Bil Halal di Mushola Al-Wustha Kaum Suku Jambak Simpang Pale, Ranah Pesisir

PADANG POS (PAINAN)-Perantau Kaum Suku Jambak Simpang Pale, Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan mengajak anak kemenakan untuk kembali menyemarakkan surau. 

Tak hanya sebagai tempat beribadah dan menimba ilmu agama semata. Bagi masyarakat Sumatera Barat, surau juga dikenal sebagai sarana mempererat silaturahmi.

"Jadi, wajar, jika surau melahirkan tokoh-tokoh besar dalam perjuangan dan pergerakkan bangsa ini," ungkap Rizal, salah seorang Ninik Mamak Suku Jambak Dt. Surajo saat Halal Bil Halal di Mushola Al-Wustha, Minggu (17/6).

Kegiatan Halal Bil Halal atau temu ramah antara masyarakat di Ranah maupun yang di Rantau merupakan rutinitas Kaum Suku Jambak Simpang Pale setiap tahunnya.

Kali ini, kegiatan itu dihadiri segenap perantau Suku Jambak dari berbagai penjuru Tanah Air. Tokoh adat, agama, unsur Bundo Kanduang dan masyarakat setempat.

Halal Bil Halal bertujuan mempererat silaturahmi antara mamak dan kemenakan, sehingga selalu terbangun komunikasi yang positif.

Pada kesempatan itu, para perantau dan masyarakat 'berikrar' untuk melanjutkan pembangunan Mushola Al-Wustha yang kini tengah terbengkalai.

Ikrar itu ditandai dengan basidoncek untuk penggalangan dana. Dalam basidoncek, perantau dan masyarakat berhasil menghimpun dana hingga Rp5,3 juta.

Rizal, melanjutkan, ajakkan kembali ke surau juga sejalan dengan program pemerintah daerah yang ingin menjadikan masyarakat Pesisir Selatan sebagai masyarakat yang 'Agamais.'

"Ini tentu sebuah program yang bagus dan harus didukung. Kami juga tidak mau genersi muda terjebak dengan hal-hal negatif," ujar perantau dari Batam itu.

Pada kesempatan itu, Idrus, pengurus Mushola Al-Wustha menyampaikan kebiasaan pulang basamo merupakan energi positif bagi pembangunan nagari.

Bahkan, terciptanya komitmen bersama untuk melanjutkan pembangunan surau kaum Suku Jambak yang kini memang tengah berlangsung. 

Pembangunan surau dilakukan secara bertahap, akibat adanya keterbtasan dana. "Namun, Alhamdulillah, selama ramadhan terkumpul infak dari jama'ah Rp2,3 juta dan sumbangan perantau Rp13 juta," sebut dia.

Ia menjelaskan, kini terdapat beberapa segmen pembangunan yang dinilai sangat mendesak seperti pembangunan lantai musalah, toilet, loteng dan teras.

Untuk lantai, butuh keramik sekitar 115 kotak. Dengan kegiatan seperti itu, ia berharap pembangunan Mushola Al-Wustha bisa tuntas tahun ini.

"Jika pembamgunannya rampung tahun ini, tentu memberikan rasa lebih khusuk dan nyaman dalam beribadah," tutup dia. (teddy setiawan)

Post a Comment