Ads (728x90)

MENYAMAKAN kehebatan tim nasional Prancis dengan PSP Padang, memang ibarat jauh panggang dari api. Bahkan bukan mustahil, tapi mustahal. Tapi,  tidak ada salahnya juga kalau  kita membahas PSP Padang dengan keberhasilan Tim sepakbola Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018, setelah meredam hambisi kesebelasan Kroasia dengan skor 4-2 dalam laga final yang dilangsungkan di Luzhniki Stadium, Rusia, Minggu, 15 Juli 2018 malam WIB.

Sebagai masyarakat Ranah Minang, begitu kita menyebut nama PSP Padang (Persatuan Sepak bola Padang), tentu saja  mengingat kita kembali terhadap sejarah panjang persepak bolaan tanah air,  karena keberadaan PSP Padang memang bukan tim kemarin sore. Julukan PSP dengan  Pandeka Minang, terlahir lebih dulu dari republik ini, pada tahun 1928.

Waktu 1928 tersebut, nama PSP Padang, Sport Vereniging Minang (SVM) yang diketuai oleh Dr. Hakim dalam ini bernaung organisasi sepak bola Padang yang dikenal engan Ilans Padang Electal (IPE), yang menjadi cikal bakal lahirnya PSP Padang.

Namun keberadaan IPE ini tidak berlangsung lama, karena Pemerintah Kolonial Belanda mengubahnya dengan membentuk organisasi pesepak bolaan Padang, 1935 dengan nama Voetballbond Padang En Omstreken, masa ini diketuai oleh orang Belanda yang "gila bola" yaitu Meneer Vander Lee. Masa meneer ini pertandingan dimalam hari digelar di Lapangan Dipo (kini, Taman Budaya Padang).

Seiring dengan gejolak politik dalam negeri, pada tahun 1942, Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang. Aksi pertama Jepang adalah membumihanguskan segala hal yang berbau Belanda, tak terkecuali VPO. Keganasan negeri matahari terbit ini menyebabkan tak ada prestasi sepak bola paddang yang mencuat baik secara tim maupun individu.

Kendati demikian, kehadiran Jepang itu ada hikmahnya. Ketika itu St. Mantari bersama tokoh-tokoh sepak bola Padang lainnya berinisiatif mengganti nama VPO menjadi Persatuan Sepak bola Padang, dan Yusuf St. Mantari menjadi ketua umum pertama dengan nama PSP. Ternyata padda masa itu, Jepang sama sekali tidak mengusiknya. dalam catatan itu pula nama PSP dipakai untuk pertama kalinya.

Ismail Lengah muncul sebagai ketua umum periode 1950-1953 yang kemudian diteruskan oleh Ahmad Husein (1955-1957). Masa ini dibangun Stadion Imam Bonjol yang merupakan stadion kebanggaan warga Padang.

Dekade 1953 ini, pemain yang memperkuat PSP menjadi pemain yang bermaterikan tim PON III Sumatera Tengah di Medan berhasil mengukir prestasi yang mengejutkan. Dengan materi Pemain Ahmad Terbang, Ibrahim Kijang, Mahmud Endah, mereka berhasil merebut juara III di PON IV. Kala itu, Sumatera Barat bernama Sumatera Tengah dan di PON IV pun pemain Paneka Minang mendominasi skuad Sumatera Tengah dan berhasil mencapai final. Sayangnya, di final, mereka ditaklukkan Sumatera Utara dengan skor 1-2.

Efeknya jelas, pada tahun 50-an, pemain PSP banyak dipanggil untuk membela tim nasional, seperti Yus Etek, Mizarmi, Lim Tek An, dan Arifin.

Di era itu, PSP sering menjamu klub-klub asing, seperti klub beken Austria, Salzburg FC, FC Lokomotiv Moskwa, Mozambik Afrika, dan klub Red Star Belgrade asal Yugoslavia yang pernah juara Liga Champions UEFA pun pernah datang.

Pada tahun 1953-1959, persepak bolaan terhenti karena terjadinya gejolak PSSI. Baru pada tahun 1959-1966, PSP Padang kembali melahirkan pemain yang membela Merah Putih. Selain Yus Etek yang masih bertahan, muncul nama-nama baru seperti Sagar Koto, Zulfar Djeze dan Oyong Liza, kapten timnas di era itu, yang menjadi andalan timnas.

PSP Padang mengikuti turnamen HUT PSSI di Jakarta pada tahun 1982. PSP dimotori Suhatman Imam dengan pemain lainnya seperti Marvin Efeni, Arif Pribadi dan Tukijan. Hasilnya tidak mengecewakan, PSP mampu menjadi kampiun pada turnamen yang diselenggarakan badan sepak bola tertinggi di Inddonesia itu setelah menundukkan PSA Ambon 3-2. Tropi plus sebuah mobil dibawa pulang ke Padang.

Masih pada tahun 1980-an, persisnya di era kepemimpinan Syahrul Ujud (wali kota Padang waktu itu), kali pertama PSP masuk ke Divisi Utama. Pada tahun itu pula berdiri stadion yang diberi nama Stadion Agus Salim yang merupakan bekas arena Pacuan Kuda Rimbo Kaluang.

PSP diarsiteki oleh Jenniwardin (1986-1987). Sayangnya, PSP tak mampu mengimbangi tim-tim perserikatan lainnya. Alhasil, tim PSP yang bermaterikan permain seperti: Dahlan, Mai, Aldi Hendra Susila dan Delfi Adri menemui nasib tragis, terlempar ke Divisi I.

Tapi kini, terjadi perubahan besar-besaran dalam Liga Indonesia musim 2018. Kini ada empat level kompetisi bakal digulirkan, mulai Liga 1, Liga 2, Liga 3, dan Liga 4.

Liga 1 merupakan kompetisi kasta tertinggi yang diikuti 18 tim. Titel Liga 1 sudah dipakai pada musim ini. Level di bawahnya adalah Liga 2 yang diikuti 24 tim kasta kedua. Pada musim ini, Liga 2 diikuti 60 tim dan akan direduksi menjadi 24 pada musim 2018.

24 tim yang mengikuti Liga 2 2018 adalah 13 tim dari babak 16 besar, 3 tim yang terdegradasi dari Liga 1, dan 6 tim dari delapan grup yang menempati peringkat terbaik di bawah dua tim yang lolos ke babak 16 besar.

Kemudian, 36 tim yang tersisa dari Liga 2 musim 2017 akan mengikuti Liga 3 yang pada musim lalu bertajuk Liga Nusantara. Sementara, klub Liga Nusantara akan tampil pada Liga 4.

Sistem kompetisi seperti sebenarnya pernah diterapkan (terakhir pada 2013), sebelum adanya peleburan kompetisi amatir menjadi Liga Nusantara. Pada era sebelumnya, kompetisi level tertinggi adalah ISL, kemudian Divisi Utama (profesional). Tiga kompetisi amatir digelar mulai Divisi 3 hingga Divisi 1

Kedepannya, tentu kita hanya bisa berharap, agar PSP Padang dibawah kepemimpinan Walikota Padang Mahyeldi bisa mengembalikan semangat juangnya. Kenapa? Karena bagaimanapun jua sistem kompetisi sekarang ini, yang jelas PSP Padang sudah terlanjut menjadi milik orang Minang sebagaimana PS Semen Padang. Semoga. (Penulis wartawan tabloidbijak dan padangpos.com/berbagai sumber)

Post a Comment