Ads (728x90)

PADANGPOS.COM (Padang)--- Wakil Rektor IV Universitas Padang, Prof Syahrial Bakhtiar membuka secara resmi Konfrensi Internasional tentang Pendidikan Non Formal, di Aula Fakultas Ilmu Pendidikan , Kamis, 2 Agustus 2018. 

Konferensi yang dipimpin Dr Alwen Bentri dan diikuti 56 penyaji makalah ini akan berlangsung sampai, Jumat sore, 2 Agustus 2018.  


Selain di hadiri 56 penyaji makalah, peserta juga berdatangan dari berbagai pihak yang berkepentingan, sekitar 200-an peserta memadati AUla FIP UNP itu.

"Kami giatkan berbagai konferensi dan seminar, karena kami tahu dengan berbagai forum ilmiah, sumber daya manusia staf pengajar dan civitas akademika FIP UNP dapat di pacu," kata Alwen Bentri dalam sambutannya.

Dekan FIP UNP itu menuturkan, dirinya dan pimpinan FIP UNP lainya telah sepakat pula untuk menyelenggarakan beragam pertemuan, lokakarya, pameran, konferensi, seminar, kunjungan studi, kompetisi, serta memfasilitasi pemberian beasiswa pendidikan bagi mahasiswa yang berprestasi.

Konferensi Internasional yang bertajuk "Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan untuk mencapai target dan tujuan pembangunan berkelanjutan " menghadirkan lima pembicara kunci, yakni Dr, Mee Young Choi (UNESCO), Prof Peter Suwarno (Arizona State University) dan Robert Gardiner (Junior Achievement Wordwide Asia Pacific). Sementara dua lainnya pembicara dari UNP sendiri yakni Prof Dr Sofema dan Prof Dr Jamaris.

WR4 UNP, Prof Syahrial mengatakan rendahnya SDM tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang sama disebabkan oleh faktor ekonomi. 

Diperlukan sikap yang optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan non formal atau lebih dikenal dengan pendidikan luar sekolah (PLS). Pemerintah melalui semangat otonomi daerah wajib menggerakan program pendidikan non formal tersebut, karena UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa pendidikan non formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab kelangsungan pendidikan non formal sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun. 

"Berdasarkan aktivitas keilmuan yang diselenggarakan FIP UNP melalui konferensi internasional hari ini, isu-isu pendidikan non formal yang terungkap dalam konferensi bermanfaat bagi pengembangan masyarakat pendidikan di Indonesia dan masyarakat dunia umumnya," ujar prof Syahrial.

Sementara itu pembicara utama yang tampil perdana pada konferensi itu Dr Mee Young Choi Dr. Mee membahas "Education for Sustainable Development" yang biasa disingkat dengan ESD. ESD merupakan proses pembelajaran (atau pendekatan mengajar) yang didasari pada idealisme dan prinsip – prinsip yang berkelanjutan dan berkaitan dengan semua tingkat dan tipe belajar untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dan membantu perkembangan kemanusiaan dalam belajar untuk mengetahui, menjadi, hidup bersama, melakukan, serta mengubah diri sendiri dan masyarakat.

Dr Mee, menjelaskan bahwa UNESCO memperkenalkan ESD ini kepada seluruh penduduk Asia-Pasifik dengan maksud agar setiap individu di wilayah Asia-Pasifik bisa belajar untuk mendapatkan dan memperkenalkan pengetahuan dan sikap mereka untuk melakukan perubahan pada masa datang dan mendapatkan respon terhadap tindakan mereka dari orang lain. Strategi dari ESD ini adalah dengan membangun hubungan dan bersinergi dengan berbagai orang melalui semua bentuk pembelajaran yang berkualitas. (Agusmardi)

Post a Comment