Ads (728x90)

PADANGPOS.COM (Padang)---Swisscontact sebuah koalisi publik-swasta untuk mengembangkan sektor kakao berkelanjutan di Indonesia, telah merampungkan kegiatan lapangan Provinsi Sumatera Barat pada bulan Juni 2018. Proyek ini telah dijalankan di lima Kabupaten yaitu Tanah datar, Pasaman, Pasaman Barat, Lima Puluh Kota dan Padang Pariaman.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Program Produksi Kakao Berkelanjutan (Sustainable Cocoa Production Program/SCPP) Christina Rini, di Bappeda Sumatera Barat, Rabu, 10 Oktober 2018.

Dampak pelaksanaan program ini, Kata Christina Rini, petani coklat di Sumatera Barat mampu meningkatkan panen kakao rata-rata sebesar 437 Kg/ha/tahun yang turut mendongkrak pendapatan rumah tangga.

“Kita sudah melatih petani dengan mendasar, topik lingkungan, dan bisnis untuk usaha, serta nutrisi dan keuangan,” ujar Rini sembari menambahkan total menyeluruh petani di Sumatera Barat ada 9.000 petani yang sudah kami latih.

Christina Rini juga mengatakan, untuk sektor kakao saat ini yang menjadi isu utama adalah banyak pohon tua, dan klon tidak sesuai dengan kondisi lokal sehingga produktifitasnya rendah. Terkait itu, program ini memperkenalkan teknis sambung samping, sambung pucuk supaya klon yang tidak bagus bisa dikawinkan dengan klon yang baik sehingga proyeksinya maksimal.

Selain melatih petani untuk meningkatkan produktifitas, juga  mendatangkan mitra swasta, tetapi pada kenyataanya memang sulit untuk mendapatkan mitra swasta untuk petani kakao.

Selain itu, kata Rini, ada masalah harga yang rata-rata kepemilikan petani 700 pohon/ha dengan harga rata-rata kakao misalnya 25 ribu, kalau tidak menghasilkan 2 kg/pohon itu tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari, jadi hanya sekitar 25 juta/tahun.

“Kita sudah merampungkan beberapa kegiatan, tapi swisscontact sendiri belum berakhir hanya kita belum menemukan mitra swasta untuk melanjutkan dalam waktu dekat, sehingga kita masih berusaha untuk mencari mitra swasta yang tepat untuk melanjutkan kegiatan di Sumbar, mungkin satu tahun kedepan saya prediksikan dan mudahan ada mitra swasta yang bisa kembali bermitra dengan petani di Sumbar,” ujar Rini.

Selain itu, Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah III, Diitjen Bangda, Kementerian Dalam Negeri Drs. Eduard Sigalingging, M.Si menyampaikan, dari laporan-laporan sebelumnya masyarakat memberikan apresiasi dan kegiatan ini yang sejalan juga dengan program pemerintah.

“Fungsi kami adalah melakukan monitoring dan evaluasi, tentu koordinasi dengan KL yang bertanggung jawab terhadap substansinya. Di Sumbar sendiri fokus kepada kakao, maka dengan kementerian pertanian kita melakukan koordinasi,” ujar Eduard. 

“Sehingga apa yang sudah dilakukan swisscontact ini kami memberikan apresiasi karena secara langsung sudah menjawab program pemerintah saat ini, mengajarkan masyarakat bagaimana cara bertani kakao dan ini tentukan berdampak dengan kesejahteraan masyarakat,” ujar Eduard sembari menambahkan kita mengharapkan pemda juga memberikan dukungan yang penuh. (fardi)

Post a Comment