Ads (728x90)

TABLOIDBIJAK (Padang) -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) klas 1 Padang Panjang membantah beredarnya isu terjadinya gempa bumi dan stunami besar pada akhir Februari 2019 yang disebabkan oleh Megatrusht Mentawai.

"Isu tersebut tidak benar dan masyarakat diminta jangan panik terhadap isu tersebut," ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar Rumainur usai Rakor Mitigasi Bencana gempa, stunami dan longsor, banjir di Auditorium Gubernuran, Jumat, 15 Februari 2019.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada ilmu yang bisa mengetahui kapan terjadinya gempabumi, bahkan pembicaraan dengan pakar gempa tidak diketahui waktu yang tepat kapan terjadi gempa tidak pernah ada, tetapi potensinya tetap ada. 

"Tidak ada ilmu yang bisa menangkap dan menyatakan kapan terjadi namun potensinya memang ada. Bahkan, BMKG Klas I Padang Panjang telah mengeluarkan rilis resmi dan menyatakan isu tersebut tidak benar," ujar Rumainur.

Dikatakannya, secara resmi isu tersebut sudah di bantah oleh BMKG, namun yang perlu diwaspadai adalah berdasarkan penelitian dari tahun 2010 hingga 2011 potensi bencana gempa memang ada. 

"Kapanya tidak bisa dipastikan, yang penting diketahui oleh masyarakat adalah bagaimana evakuasi saat terjadi bencana, baik evakuasi keluarga atau mandiri, jika terjadi malam kita sudah tahu apa yang dilakukan," jelasnya.

Dalam rilisnya nomor: UM. 505/150/PPI/II/2019 BMKG menjelaskan bahwa, ramalan gempabumi tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan kemudian BMKG juga tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi.

Selain itu, rencana pemasangan sensor EEWS merupakan program BMKG yang direncanakan sudah lama dan tidak ada kaitannya dengan isu kejadian gempabumi tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno  menuturkan, bahwa informasi tersebut hanya prediksi saja, semuanya hanya ramalan para pakar.

"Mudah-mudahan ini hanya ramalan saja. Berdoa saja dan tetap siaga," ujar Irwan. (fardi)

Post a Comment