Ads (728x90)

DULU, saya pernah sekolah di Moncleer, California, Amerika antara tahun 1994 dan 1995. Tapi setelah itu, beberapa kali lagi saya sempat bertugas ataupun jalan jalan ke beberapa negara bagian di sana.

Selain saya, tentu banyak lagi anak-anak Indonesia, bahkan anak Riau yang punya kesempatan belajar di negeri Paman Sam waktu itu. Di seluruh California saja, lebih kurang ada 1.300 orang Indonesia yang menuntut ilmu maupun yang belajar sambil cari duit. Wilayah California, memiliki dua kota besar yakni San Francisco dan Los Angeles.

Biasanya, jika hari libur, para pelajar Indonesia sering kumpul di Islamic Center Los Angeles (ICLA) atau di Dulce Cafe, yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari Pusat Perfilman Amerika, Hollywood. Di ICLA, selain ada mesjid besar tempat shalat berjamaah lima waktu, juga bisa berkenalan dengan orang orang dari seluruh dunia, khususnya yang beragama Islam. Sedang di Dulce Cafe, tersedia Kopi Jawa dan Kopi Aceh. Salah seorang pegawainya, malah bisa bahasa "Bentan" Melayukepulauan.

Dari pertemuan dan berkenalan dengan sesama mahasiswa Indonesia inilah, saya mendapatkan cerita yang sama tentang kebiasaan orang-orang Indonesia yang datang melancong, liburan, atau sekadar melihat anak, abang, adik, ponakan dan saudaranya di sana. Kami punya cerita yang sama, karena sebagian besar dari mahasiswa dan pelajar ini, pernah diminta menjadi guide atau sekedar untuk teman ngobrol.

Cerita yang sering membuat kita tersenyum rame rame itu adalah, hampir separuh di antara pelancong dan pelibur itu yang minta diantar ke kota judi Las Vegas (Nevada), cari makanan Indonesia dan cari oleh oleh yang murah. Memang, tidak semua orang minta seperti ini. Ada juga yang minta diantar ke ICLA, musium, konser musik, panggung broadway, belanja gila gilaan hingga kartu kreditnya kolaps dan setiap hari maunya makan KFC, TFC (Texas Fried Chicken) atau mie Cina.

Tapi seperti yang saya katakan di atas, "hampir separuh" dari para pelancong, yang minta diantar ke tempat judi. Hampir separuh, adalah angka yang besar --mendekati 50 persen tentunya. Angka yang sama dengan mereka yang minta makanan Indonesia dan beli oleh-oleh murah.

Ya, sebagian dari orang Indonesia yang berkunjung ke Amerika banyak yang menyukai permainan judi. Meski awalnya mereka hanya melihat lihat, namun akhirnya mereka tertarik ikut mempertaruhkan uangnya. Terkadang ada yang sampai tiga hari di sana. Terkadang hanya beberapa jam saja, karena uang mereka ludes tersedot mesin judi. Ada pula malah, yang bertaruh sampai uangnya benar benar tak bersisa sama sekali. Sehingga terpaksa telepon ke Indonesia, minta tambah kiriman uang.

Hampir separuh dari pelancong, juga menanyakan, dimana orang jual makanan kampung. Biasanya, saya atau teman teman sering bertanya; "Inikan USA Mas. Kok masih nyari ceker dan rendang. Kalau ke Amerika ya coba makanan sini aja. Jauh jauh ke Amerika, nyarinya kok sate ayam?" Tapi apa jawab mereka; "Gak selera dan gak pas di lidah." Akhirnya saya pun pergi mencari makanan Indonesia. Di kota-kota besar Amerika, memang banyak makanan Indonesia. Mulai dari yang mahal, sampai yang hanya dijual di pinggir jalan.

Lalu, ketika akan kembali ke Indonesia, mereka pasti nanya; "Oleh-oleh yang murah dimana?" Dan biasanya, memenuhi syahwat keinginan mereka, kami membawa ke pasar gelap atau ke tempat penjualan barang-barang bekas dan loak. Pasar gelap ini, adalah pasar yang menjual barang-barang tanpa pajak dan cukai. Sedang pasar loak adalah pasar yang menjual barang bekas atau barang baru tapi sudah ketinggalan mode serta gak laku di pasaran.

INI memang cerita lama, hanya buat lucu-lucuan ketika saya sekolah dulu. Saat ini, mungkin tak banyak lagi orang Indonesia yang jalan-jalan ke Amerika, bahkan anak-anak muda sudah jarang yang sekolah kesana. Namun, ada hal hal yang masih saya lihat di negeri ini hingga kini. Yakni, sebagian orang masih suka berjudi, berselera kampung dan beli barang murah tanpa pajak atau barang mati pajak.

Dan, saya kembali teringat yang lama-lama itu, karena sebentar lagi rakyat Indonesia akan memilih kepala negara baru; presiden baru periode 2019 hingga 2024. Saran saya, pilihlah presiden yang sesuai dengan pilihan masing-masing. Karena calon presiden hanya dua, pilihlah satu di antaranya. Yang tak boleh, adalah jangan sampai tak memilih.

Saran lainnya, ini yang perlu diingat; Jangan memilih presiden seperti main judi, jangan pilih yang berselera kampungan dan jangan pilih calon presiden yang mati pajak. Hehehehe! (penulis mantan wartawan sriwijaya post danKetua PWI Riau)

Post a Comment