Ads (728x90)

PADANGPOS.COM (Padang) – Tradisi Balimau sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat yang dilakukan sebelum memulai puasa dengan memanfaatkan sungai, lubuk dan tepat pemandian lainnya untuk mandi-mandi dengan harapan dapat mensucikan diri.

Terkait itu, Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno mengatakan, tradisi balimau masih pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Apalagi, masyarakat minang masih kental dengan adat dan budaya.

Dikatakannya, masih banyak masyarakat yang mengait-mengaitkan tradisi balimau dengan agama, kepercayaan dan lainnya. Namun, apabila dikaitkan hanya sebagai budaya, tradisi ini diperbolehkan.

“Tradisi balimau dari segi budaya boleh-boleh saja, asal jangan dikaitkan dengan agama,” ujarnya, di Padang, Kamis, 2 Mei 2019.

Meskipun diperbolehkan, tradisi balimau ini dilarang mandi bercampur antara laki-laki dan perempuan. Pasalnya, selama ini tradisi balimau umumnya mandi antara laki-laki dan perempuan bercampur.

Alasannya, apabila mandi dalam tradisi balimau tersebut bercampur antara laki-laki dan perempuan, akan menimbulkan perbuatan maksiat. Apalagi, lokasi mandi balimau tersebut di sungai, atau lubuk yang terbuka.

“Kalau dikaitkan dari segi budaya dan kebiasaan, mungkin kita bisa menerima. Kalau mandinya bercampur, dan berakibat maksiat, itu yang menjadi masalah,” jelasnya.

Dengan alasan itu pula, bagi yang tidak melakukan tradisi balimau ini, harus memandang dari sudut budaya atau kebiasaan, tanpa mengaitkan dengan agama. Sebaliknya, bagi yang melakukan juga tidak boleh mengaitkannya dengan agama.

“Bagi yang melakukan atau tidak, janga mengaitkan dengan agama.Kemudian dalam berkendara, juga berhati-hati. Jangan sampai muncul musibah dan lainnya,” ungkapnya. (fardi)

Post a Comment