Ads (728x90)

PADANGPOS.COM (Padang Panjang)----- Perguruan Thawalib Padang Panjang kini merevitaliasi kurikulum pendidikannya. Terkait itu sebuah seminar sehari mereka gelar, Sabtu lalu lalu. Masukan yang muncul, ada kritikan atas kurikulumnya kini, dan ada keinginan memodernisasi kurikulum dengan roh tafiquddin.

Tampil sebagai narasumber 4 orang doktor (S3), yakni Hanafi (pakar Bahasa Inggris); Janatul Husnah (hadist); Desmadi Sabarudin (asuransi)  dan Budi Johan. Mereka alumni KUI (setingkat Aliyah) 1990-an Thawalib Padang Panjang yang meraih S3 di perguruan tinggi (PT) di tanah air, Malaysia, Australia dan Mesir.

Pada seminar yang dibuka oleh Ketua Umum Yayasan Thawalib Padang Panjang, Abrar itu, Hanafi terlihat lebih banyak bicara segi tehnik mendidik murid agar bisa punya prestasi akademik dan non akademik. Terkait itu, Hanafi, peraih S3 Bahasa Inggris dari Australia itu, guru perlu inovasi-inovasi dalam mendidik dan mengajari murid.

Sementara Budi Johan, Dosen di BRI Institut Jakarta ini, tampil dengan draf jadwal kegiatan di asrama, dan draf target hafalan Quran dan Hadist. Berikut, perlunya menambah guru asrama, dan mutlak terwujudnya lingkungan sekolah/asrama yang bersih, tertib dan indah (K-3) agar siswa merasa nyaman.

Kegiatan di asrama, misalnya, kata Budi, siswa harus tidur mulai pukul 22.00 WIB malam, dan bangun pukul 04.00 WIB untuk memulai aktifitas esok harinya. Lalu, mengingat sekolah satu komplek dengan asrama, maka semua aktivitas sekolah dan asrama harus tutup sebelum pukul 22.00 WIB.  

Terus, Janatul Husnah yang tampil di sesi kedua, mencoba mengungkap kekuatan ilmu
Buya Mawardi Yunus, mantan Pimpinan Thawalib Padang Panjang, antaralain tentang hadist dan ilmu alat. Mawardi juga melahirkan banyak karya buku (kitab), salah satu terkait hadist, termasuk sejenis panduan kurikulum pesantren.

Kini, terkait upaya Thawalib merevitalisasi kurikulum pendidikannya, sebaiknya juga ikut cari dan pelajari kitab-kitab terkait dari karya Mawardi. Dengan begitu, juga akan jadi tambahan amal bagi Buya Mawardi, kata Janatul, pria asal Sumpurkudus, Sijunjung yang meraih S3 hadist di Brunei University itu.

Sedang Desmadi yang tampil di sesi ketiga, menyebut produk KUI (Aliyah) Thawalib Padang Panjang sejak perubahan kurikulumnya dari 1980-an secara umum juga berhasil. Indikatornya, banyak diterima di Perguruan Tinggi umum bermutu di tanah air dan luar negeri. Juga banyak yang sampai S3.

Tidak heran, jika faktanya kemudian juga banyak dari alumni KUI Thawalib Padang Panjang yang meraih profesi/posisi seperti guru/dosen, advokad, polisi, hakim, Anggota DPRD/RI, gubernur, dirjen hingga menteri. Mereka ini umumnya juga sekaligus membawa perannya sebagai muballiq.

Kelemahan yang terlihat, seperti juga ia rasakan, adalah kebanyakan dari alumni KUI (Kuliatul Mubalighien Islamiyah) Thawalib Padangpanang itu tertinggal di segi jumlah hafalan Al Quran dan Hadist, juga kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, bila dibanding kebanyakan alumni sebelumnya.  

Desmadi menduga salah satu penyebabnya adalah peralihan peralihan pemberian soal-soal ujian dan jawabannya dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Sebab, sejak itu murid kurang merasa tertuntut untuk menguasai Bahasa Arab, kata Janatul Husnah yang mraih S3 asuransi di Al Azhar University Mesir itu.

Muslim, guru senior KUI Thawalib Padang Panjang, menambahkan masalah disebut oleh Desmadi tadi juga termasuk akibat dihapusnya program SP-KUI (Sekolah Persiapan 1 tahun, sebelum masuk KUI) mulai 1980-an. Padahal SP-KUI ini perlu untuk persiapan kemampuan Bahasa Arab calon siswa di luar MTs Thawalib, seperti SMP.

Fakta selama ini sejak dihapusnya program SP-KUI itu, umumnya murid-murid  KUI Thawalib Padang Panjang yang dari SMP atau sejenis terlihat kesulitan mempelajari dan menguasai pelajaran yang memakai buku Bahasa Arab, terlebih kitab gundul. Karena itu, Muslim menyarankan, sebaiknya SP-KUI dihidupkan lagi ke depan.

Itulah kurang-lebih masukan yang muncul dari seminar sehari yang ikut dihadiri oleh Ketua-I Yayasan, Ali Usman Syuib; Ketua-2 Yayasan, Syaiful Amin dan sebagian pengurus. Dalam seminar ini ada beberapa hal terkait yang belum disingung. Salahsatu, apakah jumlah mata studi seperti di KUI sekitar 27 buah sangat gemuk atau tidak.

Untuk diketahui, terkait kurikulum pendidikan, Prof.Dr.Zaim, guru besar UNP Padang dalam seminar di Padang Panjang pada 2008, menyebut beban kurikulum pendidikan pada pesantren di Indonesia luar biasa gemuk (luar biasa banyak). Karena kurikulumnya terdiri gabungan kurikulum Diknas, Kemenag dan Pondok sendiri.

M.Zaim, alumni MAN Kotobaru, Padang Panjang yang meraih S3 Sastera Bahasa Inggris di Monas University Australia itu, menyebut dia melalui Tim Kelompok-IV Indonesia pernah meneliti  kurikulum pendidikan setingkat SMP/SMA di Australia, Singapore, Malaysia, Thailand dan Indonesia.

Hasilnya, Australia sebagai Ranking-1 kualitas out put pendidikan SMP/SMA-nya di antara 5 negara tadi, ternyata beban kurikulumnya juga paling sedikit. Indonesia di Ranking-5, beban kurikulumnya dinilai gemuk di antara 5 negara tersebut, Bayangkan, beban kurikulum MTsN/MAN, apalagi pesantren, kata Zaim.

Kembali ke forum seminar sehari merevitalisasi kurikulumdi di Thawalib Padang Panjang tadi, inovasi seperti apakah yang akan diambil oleh pesantren pola klasikal pertama di Asia Tenggara itu? Kita tunggu.  (editor)

Post a Comment